Creative PadLan

Creative PadLan

Creative PadLan

Creative PadLan

Senin, 24 September 2012

Insomnia dan Stress


Meskipun ada banyak penyebab insomnia, tingginya kadar hormon stres dalam otak adalah yang paling umum. Dari semua penyebab insomnia, stres adalah yang paling umum. Menurut Dr. Meir Kryger, mantan presiden American Academy of Sleep Medicine mengatakan hubungan antara stres dan tidur. “Salah satu penyebab besar dari insomnia adalah stres. Bila Anda mengalami banyak stres, tingkat hormon stres dalam tubuh Anda meningkat.
Para peneliti menemukan bahwa kadar hormon stres menyebabkan insomnia. Stres insomnia yang terkait lebih umum daripada jenis lainnya tidur. Dengan stres, beberapa organ mengeluarkan hormon. Pertama otak memberi sinyal pada kelenjar pituitari (kelenjar utama tubuh). Kelenjar adrenal adalah “kelenjar stres” tubuh. Salah satu hormon stres utama adrenal adalah kortisol. Pelepasan kortisol merangsang kenaikan gula darah (glukosa). Selama stres adalah kebijaksanaan tubuh untuk meningkatkan kadar gula darah sehingga ada lebih banyak bahan bakar untuk otak dan otot. Kortisol juga bangun otak. Jika kadar kortisol tinggi karena perasaan konstan stres, otak Anda menolak tidur di malam hari. Baik stres dan insomnia adalah “pembunuh diam”.
Kita sering mendengar bagaimana stres buruk bagi kesehatan kita. Stres kronis telah terlibat dalam penyakit utama sebagian besar sekarang. Tidur adalah waktu peremajaan untuk pikiran dan emosi dan waktu perbaikan diri bagi tubuh. Selama istirahat sistem tubuh kecuali otak melambat. Selama tidur nyenyak otak mengeluarkan hormon pertumbuhan manusia. Dengan mengurangi jumlah tidur nyenyak yang kita dapatkan setiap malam, insomnia mengurangi sekresi keseluruhan hormon pertumbuhan manusia. Tingkat hormon stres dalam tubuh Anda dapat dikurangi dengan mengelola stres Anda. Ini akan membantu Anda untuk mendapatkan tidur yang lebih baik.

Pengobatan tradisional untuk insomnia dan stress

• Herbal yang telah terbukti melindungi tubuh dari stres kronis, tumbuhan ini disebut herbal adaptogenik karena membantu tubuh untuk “beradaptasi” terhadap stres. Penelitian menunjukkan insomnia disebabkan oleh stres.
• Dalam kasus insomnia, salah satu obat tradisional adalah untuk minum segelas susu hangat dengan madu. Hal ini memiliki efek menenangkan, membantu kita untuk melepaskan stres hari itu dan mengangguk tertidur. Efek menenangkan serotonin yang membantu seseorang untuk rileks untuk tidur.
Serotonin adalah pada gilirannya dikonversi oleh otak, ke melatonin-neurotransmitter otak bahwa sinyal tidur. Para peneliti terus mengkonfirmasi bahwa bentuk paling umum dari insomnia, disebut sebagai insomnia primer, adalah berhubungan dengan stress.
•  Jika Anda sangat stres mencoba meditasi atau bergabung dengan kelas yoga.
•  Aromaterapi adalah cara yang bagus untuk mengurangi insomnia dan stres. Keharuman menenangkan dan santai akan membantu Anda untuk tidur. Mandi hangat akan membuat Anda santai dan minyak aromaterapi akan membantu Anda untuk merasa relax sehingga mudah bagi tubuh untuk tertidur atau beristirahat dengan nyenyak.
Dalam beberapa kasus, insomnia dan stres yang dialami penderitanya sangat besar sehingga Anda membutuhkan konseling profesional untuk dapat menyembuhkan insomnia dan stress Anda.

Selasa, 18 September 2012

Penemuan Spesies Megalara garuda


Tahun lalu peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) bekerja sama dengan peneliti asing melakukan ekspedisi ke kawasan Gunung Mekongga, Sulawesi Tenggara. Salah satu peneliti LIPI yang bergabung dalam ekspedisi itu adalah Rosichon Ubaidillah. Sementara peneliti asing yang ikut adalah Lynn S. Kimsey dari University of California Amerika Serikat dan Michael Ohl dari Museum for Naturkunde Jerman. Dalam ekspedisi Mekongga itu, para peneliti menemukan spesies baru, yaitu spesies lebah raksasa yang diberi nama Latin Megalara garuda.

Perbandingan Megalara garuda dengan lebah biasa. Ilustrasi dari DailyMail.Co.Uk
Megalara garuda merupakan lebah raksasa dengan ciri khas rahang besar dan lebih panjang dari kaki depannya sehingga area antara mata dan rahang bawahnya begitu besar. Megalara garuda memiliki ukuran tubuh tiga kali lebih besar dibanding lebah biasa. Karena ukuran tubuh dan ukuran rahang yang besar itu, serangga ini diberi nama genus Megalara yang merupakan gabungan dari kata “Mega” dan “Dalara”. Dalara merupakan nama genus yang mempunyai ciri paling mirip dengan lebah raksasa ini. Selain itu, Megalara garuda mempunyai rambut pendek halus yang berwarna hitam.
Karena belum ditemukan dalam keadaan hidup, penelitian lanjut masih diperlukan. Namun para peneliti memperkirakan rahang besar milik Megalara garuda berguna untuk reproduksi dan untuk mempertahankan diri dari predator. Karena ukuran spesies jantan lebih besar dari ukuran spesies betina, rahang besar milik Megalara garuda diperkirakan berguna untuk memegang spesies betina ketika reproduksi. Dengan ukuran yang besar, Megalara garuda bisa menyerang dan membunuh mangsa dengan sengatannya.
Pada tanggal 25 Agustus 2011, penemuan Megalara garuda dipublikasikan di Daily Mail. Dalam artikel berjudul “Waspzilla! The fearsome flying beast discovered in the jungle with jaws longer than its front legs” itu, Lynn S. Kimsey pertama kali mengungkapkan akan memberi nama spesies “garuda” sesuai lambang negara Indonesia. Bulan lalu, tepatnya tanggal 23 Maret 2012, Daily Mail kembali mempublikasikan artikel tentang Megalara garuda. Pada hari yang sama, jurnal Zookeys merilis publikasi dengan judul “Megalara garuda, a new genus and species of larrine wasps from Indonesia (Larrinae, Crabronidae, Hymenoptera)”.
Setelah diamati, ternyata ada kejanggalan dalam publikasi-publikasi Megalara garuda itu. Dalam dua artikel Daily Mail tersebut, Lynn S. Kimsey disebutkan sebagai penemu spesies baru, sementara nama Michael Ohl dan Rosichon Ubaidillah tidak disebutkan. Dalam jurnal resmi Zookeys, nama peneliti yang disebutkan adalah Lynn S. Kimsey dan Michael Ohl, sementara nama peneliti LIPI, Rosichon Ubaidillah, kembali tidak disebutkan. Sebagai peneliti serangga parasitoid, Rosichon Ubaidillah merasa kecewa karena namanya tidak dicantumkan dalam jurnal ilmiah tersebut.
Rosichon Ubaidillah menjelaskan bahwa penelitian tentang Megalara garuda ini merupakan kerja sama antara LIPI dengan peneliti asing. Sesuai MoU (Memorandum of Understanding) yang sudah disusun, kerja sama ini mencakup penelitian dan publikasi. Selain itu, dalam etika kerja sama penelitian, pencantuman nama peneliti dalam jurnal internasional tidak bisa diabaikan begitu saja. Selain karena kapasitas dan peran aktifnya dalam penelitian ini, Rosichon Ubaidillah juga berperan besar dalam pemberian nama spesies “garuda”.
Rosichon Ubaidillah sudah menyurati pihak penanggung jawab kerja sama penelitian di University of California. Lynn S. Kimsey kemudian meminta maaf atas tidak dicantumkannya nama peneliti LIPI. Lynn S. Kimsey juga menjelaskan awalnya ia mencantumkan nama peneliti LIPI namun ia menemui masalah karena tidak ada peneliti Indonesia yang memiliki spesifikasi di bidang stinging wasps (lebah penyengat). Namun hal itu dibantah Rosichon Ubaidillah, menurutnya dialah peneliti Indonesia yang berpengalaman di bidang serangga, khususnya lebah.
Tidak hanya kecewa dengan tidak dicantumkannya nama peneliti LIPI, pihak LIPI juga menyayangkan sikap Lynn S. Kimsey yang belum mengembalikan spesimen Megalara garuda. Saat ini spesimen langka tersebut masih berada di University of California. Mari kita tunggu kedua pihak untuk duduk bersama dan menyelesaikan permasalahan ini. Di lain pihak, orang Indonesia bisa berbangga karena nama “garuda” kini digunakan sebagai nama Latin lebah raksasa ini.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More