Creative PadLan

Creative PadLan

Creative PadLan

Creative PadLan

Selasa, 18 September 2012

UKURAN DINAMIKA POPULASI DAN KEPADATAN POPULASI


1.      Metode Sensus (Pencacahan Total)

Pencacahan total merupakan suatu cara menghitung secara langsung semua individu di suatu tempat yang dihuni spesies yang diselidiki. Metode ini biasanya digunakan pada berbagai spesies mamalia berukuran tubuh besar dan mudah tampak dalam habitatnya, misal gajah di semak belukar. Pencacahan total juga dapat dilakukan pada berbagai jenis hewan yang berukuran kecil, misal kelelawar dengan mencacah individu yang keluar masuk dari lubang tempat tinggalnya. Dapat juga dilakukan pada jenis hewan invertebrate sesil dengan ukuran tubuh yang tidak terlalu kecil, misalnya teritip (Balanus sp). Pengukuran Kelimpahan Absolut : Metoda-metoda Pencuplikan Metode pencuplikan (sampling method) merupakan metode yang menggunakan pencacahan, namun dilakukan terhadap individu-individu dari cuplikan-cuplikan (samples) yang masing-masing merupakan suatu proporsi kecil dari populasi yang diperiksa. Sensus adalah pencacahan atau kegiatan pengumpulan data atau informasi pada seluruh individu yang bertempat tinggal di suatu wilayah administratif tertentu. Kendala : dana, tenaga.
            Dalam Metode Sensus terbagi atat beberapa metode diantaranya :
A.    Metode Mark/Recapture
Metode    statistik    Mark/Recapture    dibagi    mejadi    2    kategori    :    Metode Mark/Recapture untuk populasi tertutup dan populasi terbuka. (Kursus ini kita akan lebih konsentrasi dalam metode untuk populasi terbuka).
Jika kita berencana menggunakan sampling jangka pendek (beberapa hari hingga beberapa minggu, misal mirip dengan waktu yang digunakan untuk sensus Komodo) untuk mendapat perkiraan populasi, akan menjadi seperti menggunakan metode Mark/Recapture untuk populasi tertutup. Populasi tertutup adalah sebuah populasi satwa yang tertutup dari faktor tambahan (kelahiran dan imigrasi) dan faktor pengurangan (kematian dan emigrasi). Jadi populasi dianggap konstan selama waktu penelitian. Unsur pembatas populasi tertutup :
1.      Pembatas Geografis : Populasi tertutup oleh pembatas fisik sehingga satwa tidak berpindah keluar area dimana populasi tersebut terperangkap
2.      Pembatas Demografis : Tertutup dari faktor kelahiran, imigrasi, kematian dan emigrasi.
B.     Metode Lincoln-Petersen
Sejauh ini metode termudah untuk penaksiran ukuran populasi adalah Metode Lincoln-Petersen. Laplace tercatat dan dianggap sebagai orang pertama yang menggunakan metode ini pada abad ke-16, dimana terdapat 2 hal yang umum digunakan yaitu pada penelitian ikan dan hidupan liar. Bagi para nelayan teknik ini dikenal sebagai “Metode Petersen” mengacu pada saran C.G.J.
Petersen tahun 1896. Semetara peneliti hidupan liar cenderung mengarah ke “Index Lincoln” mengacu pada penggunaannya oleh F.C. Lincoln dalam usahanya untuk menaksir kelimpahan burung air di amerika utara pada tahun 1930-an. Pengguna ketiga adalah C.H.N Jackson (1933) dalam studinya tentang lalat Tse-Tse di Afrika. Metode ini hanya membutuhkan 2 periode census, melibatkan inisial Penanda dari Individu (M) dimana m diperoleh dari n binatang yang ditangkap pada penangkapan kedua. Jika populasi tertutup (yaitu tidak adanya penambahan atau pengurangan seperti Imigrasi, Emigrasi, mortalitas, dll.) maka secara intuisi hal ini dapat diperkirakan bahwa pengacakan satwa tertandai dalam populasi (M/N) dapat ditaksir dengan proporsi dari satwa yang ditandai pada pengambilan sampel kedua yaitu :

Untuk alasan statistik, kita memodifikasi formula ini agar dapat mengurangi bias yang berhubungan dengan sampling dan penggunaan formula Petersen yang dimodifikasi (digabungkan dengan DG Chapman oleh Seber, 1982)



C.     Schnabel Estimator (k-sampel Closed-Pop’n model).
Schnabel 1938, Metode ini berkembang dari metode Lincoln-Petersen, menjadi rangkaian sampel-sampel, dimana terdapat sampel no 2,3,4,…, dst. Individu-individu tertangkap dalam masing-masing sampel merupakan individu yang diperiksa penandanya, lalu ditandai dan dilepaskan. Hanya penanda tipe single yang digunakan, karena kita hanya perlu membedakan 2 tipe dari individu, yaitu : Ditandai (ditangkap dalam satu atau lebih sampel utama) dan yang tidak ditandai (tidak pernah ditangkap sebelumnya). Dibawah ini adalah keterangan dari masing masing sampel t :
Ct = jumlah total dari individu-individu yang ditangkap dalam sampel t
Mt = jumlah individu-individu yang telah ditandai ketika ditangkap dalam sampel t
Rt = jumlah satwa yang ditandai dalam populasi, sebelum pengambilan sampel dilakukan.
Schnabel memperlakukan perkalian sampel-sampel sebagai seri dari sampel Lincoln-Petersen (L-P) dan didapatkan estimasi populasi sebagai rata-rata kasar (Weighted Average) dari Penaksiran L-P :

2.      Metode Sampling
Metode cuplikan (Sampling) Biasanya para peneliti harus puas dengan hanya menghitung proporsi kecil populasi dan hanya mempergunakan cuplikan (=”sampel”) ini untuk memperkirakan seluruh populasi.
Ada beberapa metode sampling yang biasa dipelajari, yaitu :
a)      Metode Plot (Berpetak) Suatu metode yang berbentuk segi empat atau persegi (kuadrat) ataupun lingkaran. Biasanya digunakan untuk sampling tumbuhan darat, hewan sessile (menetap) atau bergerak lambat seperti hewan tanah dan hewan yang meliang. Untuk sampling tumbuhan terdapat dua cara penerapan metode plot,yaitu :
·         Metode Petak Tunggal, yaitu metode yang hanya satu petak sampling yang mewakili suatu areal hutan. Biasanya luas minimum ini ditetapkan dengan dar penambahan luas petak tidak menyebabkan kenaikan jumlah spesies lebih 5 % atau 10 %.
·         Metode Petak Ganda, yaitu pengambilan contoh dilakukan dengan menggunakan banyak petak contoh yang letaknya tersebar merata (sebaiknya secara sistematik). Ukuran berbeda-beda berdasarkan kelompok tumbuhan yang akan dianalisis. Perbandingan panjang dan lebar petak 2 : 1 merupakan alternatif terbaik daripada bentuk lain.
b)      Metode Transek (Jalur). Untuk vegetasi padang rumput penggunaan metode plot kurang praktis. Oleh karena itu digunakan metode transek, yang terdiri dari :
·         Line Intercept (Line Transect), yaitu suatu metode dengan cara menentukan dua titik sebagai pusat garis transek. Panjang garis transek dapat 10 m, 25 m, 50 m atau 100 m. Tebal garis transek biasanya 1 cm. Garis transek kemudian dibuat segmen-segmen yang panjangnya 1 m, 5 m atau 10 m. Selanjutnya dilakukan pencatatan, penghitungan dan pengukuran panjang penutupan semua spesies tumbuhan pada segmen-segmen tersebut.
·         Belt Transect, yaitu suatu metode dengan cara mempelajari perubahan keadaan vegetasi menurut keadaan tanah, topografi dan elevasi. Transek dibuat memotong garis topografi dari tepi laut ke pedalaman, memotong sungai atau menaiki dan menuruni lereng pegunungan. Lebar transek 10 – 20 m dengan jarak antar transek 200 – 1000 m (tergantung intensitas yang dikehendaki). Untuk kelompok hutan yang luasnya 10.000 ha, intensitas yang digunakan 2 % dan hutan yang luasnya 1.000 Ha atau kurang intensitasnya 10%.
·         Strip Sensus, yaitu pada dasarnya sama dengan line transect hanya saja penerapannya ekologi vertebrata terestrial (daratan). Metode ini meliputi berjalan sepanjang garis transek dan mencatat spesies-spesies yang diamati di sepanjang garis transek tersebut. Data yang dicatat berupa indeks populasi (indeks kepadatan).
c)      Metode Kuadran pada umumnya dilakukan jika hanya vegetasi tingkat pohon saja yang menjadi bahan penelitian. Metode ini mudah dan lebih cepat digunakan untuk mengetahui komposisi, dominansi pohon dan menaksir volumenya. Ada dua macam metode yang umum digunakan :
·         Point-quarter, yaitu metode yang penentuan titik-titik terlebih dahulu ditentukan disepanjanggaris transek. Jarak satu titik dengan lainnya dapat ditentukan secara acak atau sistematis. Masing-masing titik dianggap sebagai pusat dari arah kompas, sehingga setiap titik didapat empat buah kuadran. Pada masing-masing kuadran inilah dilakukan pendaftaran dan pengukuran luas penutupan satu pohon yang terdekat dengan pusat titik kuadran. Selain itu diukur pula jarak antara pohon terdekat dengan titik pusat kuadran.
·         Wandering-quarter, yaitu suatu metode dengan cara membuat suatu garis transek dan menetapkan titik sebagai titik awal pengukuran. Dengan menggunakan kompas ditentukan satu kuadran (sudut 90°) yang berpusat pada titik awal tersebut dan membelah garis transek dengan dua sudut sama besar. Kemudian dilakukan pendaftaran dan pengukuran luas penutupan dan jarak satu pohon terdekat dengan titik pusat kuadran (Soegianto, 1994). Penarikan contoh sampling dengan metode-metode diatas umumnya digunakan pada penelitian-penelitian yang bersifat kuantitatif.
3.      Metode Tangkap dan Tangkap Lagi
Catch and release atau tangkap dan lepas adalah salah satu metode konservasi perikanan yang di terapkan di dalam olah raga memancing. Sejak diperkenalkan di Amerika tahun 1952 silam, cara ini telah menjadi pro dan kontra sampai sekarang. Tulisan ini dibuat untuk memberikan pengetahuan yang jernih dan memadai tentang catch and release, bukan “perdebatannya”   Catch and release adalah salah satu aplikasi dalam konservasi perikanan yang biasa dipakai para pemancing. Setelah ikan tertangkap, maka mata kail di lepas dari mulut ikan tanpa memindah keluar dari air dan akhirnya ikan di lepas kembali kea lam. Karena ikan dilepas kembali, maka dihindari ikan diganco, terlalu lama di udara, atau terluka selama proses pengambilan mata kail di mulut ikan.  
Sejarah Catch and Release Di Inggris, metode ini sudah di mulai sejak lama pada awal abad ini, tetapi sekarang sudah menjadi semacam konvensi atau undang-undang tidak tertulis, bahwa memancing, terutama ikan salmon dan trout selalu di lepas lagi ke alam. Di Amerika, metode tangkap lepas merupakan bagian dari manajemen di Negara bagian Michigan sejak tahun 1952.   Karena perekonomian disini lebih baik, maka olah raga memancing hanya untuk kesenangan, bukan untuk “MENGERUK” ikan sebanyak-banyaknya seperti di Negara berkembang. Metode ini sangat dipatuhi oleh mania di Amerika , karena kesinambungan ikan di sungai-sungai tetap ada, maka hobi memancing tetap ada dan terjaga.   Di Australia, metode ini berkembang di mulai sekitar tahun 1960an. Praktek tangkap dan lepas mulai di praktekkan secara luas sekitar awal tahun 1980an. Beberapa ikan yang mulai langka seperti Murray Cod, Australian Bass bahkan Marlin juga mulai menjadi target tangkap lepas bila terpancing.  
Di Irlandia, metode tangkap lepas sejak tahun 2003 mulai dilakukan dalam satu bagian konservasi untuk melepas lagi ikan salmon dan trout ke alam bila terpancing. Sejumlah ikan bahkan wajib di lepas lagi kea lam bila berhasil di pancing.   Cara ini bahkan menjadi undang-undang di Negara tersebut. Demikian juga di Kanada, beberapa jenis ikan memang harus di release lagi kealam bila tersangkut kail para pemancing di sana.   Metode tangkap lepas yang benar Ke efektifitasan metode ini adalah menghindari akses dari pertarungan dengan ikan dan waktu handling yang terlalu lama. Menghindari rusaknya sirip dan sisik ikan karena tersangkut jaring (bisa menderita jamur saat di lepas lagi kea lam, sehingga justru dapat menulari ikan-ikan yang lain di alam) dan menghindari kerusakan insang karena tekhnik handling yang salah. Penggunaan mata kail yang tanpa “BARB” merupakan aspek yang penting bila ingin menerapkan metode tangkap dan lepas pada ikan hasil pancingan kita. Kail tanpa barb mengurangi luka dan waktu penanganan menjadi lebih singkat. Sehingga menaikkan tingkat “Survive” ke lolosan ikan yang tertangkap. Ikan yang berhasil di tangkap dengan mata kail tanpa barb lebih mudah di lepas tanpa memindahkan ikan dari air dan mata kail lebih mudah di lepas dengan menggunakan tang.   Mata kail tanpa barb dapat dibeli khusus memang desainnya tanpa barb, atau dapat memodifikasi matail dengan barb, dengan cara menghilangkan barb dengan tang. Beberapa aspek yang harus di perhatikan dalam melaksanakan metode tangkap dan lepas yaitu:
·         Gunakan peralatan yang kuat untuk meminimalkan waktu bertarung dengan ikan.
·         Gunakan tang penjepit untuk melepaskan kail dari mulut ikan.
·         Gunakan mata kail tanpa barb supaya lebih cepat mata kail dari mulut ikan.
·         Biarkan ikan di air selama proses melepas mata kail di mulut ikan sebelum melepas kembali kealam.

Jika memang harus di pindah ke darat karena akan di foto atau memang kesulitan melepas mata kail sehingga di tarik ke darat, maka aspek yang perlu di perhatikan adalah:
1.      Hindari penggunaan jarring saat akan mendaratkan ikan, kecuali jala yang di peruntukkan khusus dalam metode tangkap dan lepas. Biasanya jaring yang berbahan lembut sehingga tidak merusak sisik ikan.
2.      Hindari meletakkan ikan di tempat-tempat yang keras atau di duga dapat merusak sisik ikan.
3.      Hindari memegang ikan dengan tangan yang memakai sarung tangan yang kasar.
4.      Hindari memegang bagian mulut, insang dan gigi saat memegang ikan.
5.      minimalkan waktu handling 20-30 detik, karena kalau kelamaan ikan dapat mati.

Tingkat survive dengan metode ini sangat bervariasi tergantung jenis ikannya. Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa tingkat survive ikan mencapai 95%-97% pada metode memancing dengan menggunakan umpan tiruan (lure).  Ikan yang tertangkap menggunakan umpan tiruan biasanya hanya tertancap secara bersih di sekitar mulut, sehingga meminimalkan luka sebelum dilepas kembali kealam. Sedangkan umpan alami mempunyai tingkat survive lebih rendah ( 70%-90%), karena beberapa umpan biasanya di telan sampai ke tenggorokan, bahkan sampai usus bagian dalam. Studi lain menunjukkan bahwa bahwa cara melepas mata kail yang menancap di dagu ikan (mulut bawah) dengan cara memotong senar disekitar mata kail juga mempunyai tingkat survive yang tinggi. Karena beberapa mata kail yang terbuat dari carbon dan nikel akan berkarat dan hilang tergerus air, apalagi bagi ikan yang hidup di laut.  
Catch and release di laut dalam Ternyata penelitian juga mendapat fakta bahwa metode ini sangat sulit dilakukan bagi pemancing laut dalam.   Hampir semua ikan di laut dalam biasanya terkena dampak perubahan tekanan bila terpancing. Bayangkan dari dasar laut dalam sampai permukaan terjadi perubahan tekanan tubuhnya secara mendadak. Tentu berakibat fatal bagi ikan-ikan dasar ini. Secara fisiologi, ikan tidak dapat secara cepat beradaftasi terhadapperubahan tekanan. Hal ini di sebut “Barotrauma”. Ikan yang terkena barotraumas biasanya gelembung renangnya membengkak, bola mata membesar, dan berakibat pada kematian. Jadi ikan dasar dari kedalaman 30-50 kaki yang terpancing bila di lepas kembali kelaut, maka akan berakibat ikan tersebut tidak dapat menyelam dan berenang, sehingga ikan ini akan langsung dihajar oleh ikan predator lainnya, seperti ikan hiu dan barracuda.   Jadi jika kondisi ikan seperti ini, sebaiknya dibawa pulang saja, tidak usah dilakukan C n R. Tangkap dan lepas hanya efektif bagi ikan-ikan pelagis ( ikan permukaan), seperti ikan Giant travelly, tuna, wahoo, tenggiri, layaran atau marlin dan lain-lain. Sedangkan ikan dasar seperti ikan kakap merah, kurisi, lencam, kerapu sebaiknya ddibawa pulang saja atau tergantung kondisi ikan.   C n R Metode tangkap dan lepas ( C n R) ternyata mengundang debat dari berbagai pihak. Karen dianggap tidak etis dan tidak bermoral karena membuat ikan stress hanya untuk bersenang-senang.   Setuju dengan C n R Beberapa orang yang setuju pada metode ini mempunyai alasan bahwa ikan yang terkena mata kail di bagian mulutnya hanya sugesti belaka, karena ikan juga sering kali memakan udang yang bagian ujungnya (rostrum) berduri dan sering bagian mulutnya terkena duri ini, demikian juga bila memakan ikan lainnya, akan terdapat duri di semua sirip-siripnya sehingga ikan terbiasa tertusuk benda tajam dan bukan suatu masalah. Ikan berlari menarik senar bukan karena merasa sakit, tetapi karena harus lari karena adanya perlawanan dari hentakam joran dan tarikan senar.  
C n R adalah suatu metode konservasi, hal ini dilakukan untuk mencegah over fishing/over harvest (panen berlebih) pada stok ikan dalam suatu pertumbuhan populasi manusia yang berlebihan. Tekanan perikanan komersial, naiknya effektifitas peralatan dan tekhnik memancing, undang-undang perikanan yang melemah, aksi pembiaran dari pemerintah berwenang dan terkait, penegakan hukan yang payah serta penurunan kualitas lingkungan.

4.      Pengukuran Nisbi
Karakteristik semua metode pengukuran kerapatan nisbi adalah bahwa semuanya tergantung pada pengumpulan cuplikan yang mewakili tetapan nisbi yang tidak diketahui hubungannya dengan besarnya populasi secara keseluruhan. Jadi yang diperoleh hanya petunjuk kelimpahan yang kurang begitu akurat. Sebenarnya banyak teknik perkiraan demikian itu, tetapan disini hanya beberapa saja yang akan disajikan ialah :
a)      Jebakan, Termasuk jebakan untuk tikus lapangan,jebakan cahaya untuk insekata yang terbang malam, jebakan sumuran yang dipasang pada permukaan tannah untuk menjebak kutu, atau hewan kecil lainnya, jebakan isap bagi insekta terbang, serta jaring plankton. Hewan yang tertanggap tergantug tidak hanya kerapatan populasi tetapi juga aktivitas hewan itu, kisaran gerakan, dan kemempuan si pemasang jebakan, sehingga sebenarnya hanya akan dieroleh gambaran kasar mengenai kelimpahan dengan teknik ini.
b)      Cacah butir tinja. Jikalau diketahui cacah butiran tinja dan rerata laju peninjaan akan diperoleh index besarnya populasi.
c)      Frekuensi vokalisasi. Beberapa kali ayam hutan berbunyi seletiap 15 menit dapat dipergunakan untuk index besarnya populasi ayam hutan
d)     Catatan kulit. Cacah hewan yang ditangkap oleh pemburu atau penjebak dapat dipergunakan untuk memperkirakan perubahan pada populasi mammalia catatan ada yang sampai 150 tahun yang lalu.
e)      Tangkapan per satuan usaha penangkapan ikan, misalnya cacah ikan yang ditangkap selama 100 jam dengan pukat harimau. Jika diperbandingkan akan dapat dipergunakan untuk memperkirakan kelimpahar ikan di suatu perairan
f)       Cacah artifak, misalnya butir tanah pada "rumah" kepiting, pohon untuk sarang tupai, bekas kepompong yang telah ditinggalkan insekta, dapat berguna untuk memperkirakan cacah hewan bersangkutan.
g)      Kuesioner dapat dikirimkan kepada penggemar berburu atau penjebak untuk mendapatkan perubahan populasi hewan yang jadi objeknya.
h)      Frekuensi. Persentase kuadrat yang dipergunakan dalam pengkajian suatu spesies khusus dapat berguna untuk memperkirakan kelimpahan nisbi.
i)        Kapasitas makan. Jumlah umpan yang diambil oleh tikus dapat dipergunakan untuk mengukur sebelum dan sesudah peracunan untuk memperoleh perubahan kerapatan.
j)        Penghitungan di jalanan. Cacah burung mangsa yang tampak waktu mengendarai mobil sejauh jarak yang telah dibakukan dapat dipergunakan sebagai index kelimpahan.
Hasil metode pengukuran kerapatan nisbi tersebut diatas perlu dipelajari dan di evaluasi secara hati-hati. Hasil tersebut lebih merupakan pelengkap pada teknik langsung. Perlu dipertimangkan 2 hal : pertama, bahwa informasi sensus yang akurat dan terperinci hanya dapat diperoleh untuk beberapa jenis hewan. Dalam kebanyakan kejadian harus puas dengan perkiraan kasar. Kedua, bahwa terdapat karya penelitian yang hanya berkenaan dengan hewan yang “mudah “ ialah burung dan mamalia


DAFTAR PUSTAKA


Suin,nurdin Muhammad.1989. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara : Jakarta

Bangsa Polycarpicae dan Bangsa Aristolochiales


Bangsa POLYCARPICAE (RANALES atau RANUNCULALES)

Ciri-ciri umumnya :
1.      Umumnya tumbuhan dengan batang berkayu.
2.      Ciri utama : terdapat daun buah yang bebas dalam bunganya, sehingga dari satu bunga dapat membentuk banyak buah (polycarpiceae ; poly = banyak, carpos = buah).
3.      Bagian-bagian bunga lepas dan tersusun secara spiral.
 
Gambar : Ranunculales
Sebagian besar warga bangsa ini terjadi atas tumbuhan dengan batang berkayu, kadang-kadang dalam kayunya belum terdapat trakea, sebagian kecil berupa terna. Ciri utama bangsa ini ialah terdapatnya daun buah yang bebas pada bunganya, sehingga dari satu bunga dapat kemudian terbentuk banyak buah. Sifat inilah yang menyebabkan kelompok tumbuhan ini diberi nama Polycarpicae (dari bahasa Yunani = banyak. Carpos =  buah). Kedudukan primitifnya terlihat dari dimilikinya bunga yang bagian-bagianya selainnya bebas dengan yang lain juga karena duduknya  yang mengikuti spiral dan adanya bentuk-bentuk peralihan antara bagian-bangian utama bunga. Selain dari itu bagian-bangian bunga tersebut(terutama daun-daun buahnya) kadang-kadang masih jelas sifatnya sebagai sporofil dengan bakal-bakal biji (makrosporangium) yang terletak pada tepinya (marginal).
Polycarpicae juga dipandang sebagai kelompok dikotil yang dalam perkembangan filogentik selanjutnya akan menghasilkan kelompok tumbuhan monokotil. Pendapat ini didasarkan atas adanya kenyataan ditemukannnya sifat-sifat umum tumbuhan monokotil pada warganya, misalnya adanya daun-daun yang duduk berseling (mengikuti rumus ½) dan bunga yang bagian-bangian berbilang tiga (trimer) seperti dapat kita jumpai pada anggota-anggota suku Annonaceae, dan adanya suku daun-daun bertulang melengkung serta bunga berbilangan 3 seperti terdapat pada anggota-anggota suku Lauraceae.
Dalam bangsa Polycarpicae termasuk sejumlah suku, diantaranya  ialah :
  1. Suku : Ranunculaceae atau Ranaceae
 
Gambar : Aconitium Napellus
Suku ini meliputi terna annual maupun parenial dan tumbuhan berkayu dengan daun-daun tunggal atau majemuk yang duduknya tersebar atau berhadapan. Bagian-bagian bunga jarang tersusun berkarang, kebanyakan mempunyai bagian-bagian bunga yang masih duduk dalam spiral. Bunga dengan tenda bunga atau hiasan bunga yang telah jelas dapat dibedakan dalam kelopak atau mahkota. Bila terdapat tenda bunga, tenda bunga itu umumnya bersifat seperti mahkota, seringkali dengan daun-daun penghasil madu diantaranya daun-daun tenda bunga dengan benang-benang sarinya. Bunga aktinomorf atau zigomorf, hampir selalu banci.Benang sari banyak, bebas. Bakal buah kebanyakan lebih dari satu, jarang hanya satu, apokarp, jarang sinkarp, mempunyai banyak bakal biji masing-masing dengan 1 sampai 2 integumen. Buahnya buah kurung, buah keras, atau buah buni. Biji dengan endosperm yang besar dan lembaga yang kecil.
Suku ini meliputi sekitar 1200 jenis yang terbagi dalam 30 marga, kebanyakan menghuni daerah iklim sedang. Sampai daerah iklim dingin. Kebanyakan anggotanya mengandung alkaloid dan oleh karenanya berguna dalam obat-obatan.
Contah-contohnya :
-          Ranunculus : R.arvensis, R. scleratus.
-          Hydrastis : H. Canadensis, rimpangnya berkhasiat obat.
-          Nigella : N.sativa, bijinya sebagai bumbu masak.
-          Clematis : C.paniculata, C. vitalba (liana, tanaman hias).
-          Delphinium : D. staphisagria (tanaman hias, biji berkhasiat obat).
-          Aconitium : A. napellus (umbinya berkhasiat obat).
-          Paeonia : P. officinalis, P. arborea.
-          Helleborus : H. niger, H. viridis.
-          Anemone : A. pulsatilla (berkhasiat obat).



 
Gambar : Anemone Pulsatilla
 
Gambar : Bagian-bagianya Anemone Pulsatilla

  1. Suku : Lardizabalanceae
Tumbuhan berkayu seringkali berupa liana, daun majemuk atau menyirip. Bunga berpisah-pisah atau majemuk berbentuk tandan, aktinomorf, banci atau berkelamin tunggal, berbilang tiga. Hiasan  bunga terdiri atas 2 lingaran daun tenda bunga, 2 lingkaran daun-daun penghasil madu, 2 lingkaran benang-benang buah apoarp, masing-masing berisi banyak atau hanya 1 bakal biji yang parietal. Buahnya  buah buni. Biji dengan endosperm dan lembaga yang kecil.
Suku ini hanya mencakup + 15 jenis, terbagi dalam 7 marga, yang tersebar di pegunungan Himalaya, Asia timur, dan Chili.
Contoh-contoh :
Akebia : A. aquinata, A. lobata (tanaman hias, buah dapat dimakan)


  1. Suku : Berberidaceae

Terna perennial atau tumbuhan berkayu dengan daun tunggal atau majemuk tanpa daun penumpu. Bunga terpisah-pisah atau tersusun dalam rangkaian yang bersifat rasemos: hiasan bunga berupa tenda bunga atau jelas dapat di bedakan dalam kelopak dan mahkota, berbilang 2 atau 3, banci, aktinomorf. Hiasan bunga tersusun dalam 2-4  lingkaran, seringkali di susul dengan 2 lingkaran daun-daun  madu dan 2  lingkaran benang-benang sari. Kepala sari membuka dengan celah atau katup. Bakal buah dengan 1 sampai banyak bakal biji, masing-masing bakal biji dengan 1 sampai banyak  bakal biji, masing-masing bakal biji dengan 2 integumen. Buahnya buah buni. Biji dengan endosperm dan lembaga yang kecil.
Suku ini meliputi + 150 jenis yang terbagi dalam 10 marga , kebanyakan tumbuhan di daerah iklim sedang, beberapa jenis terdapat di Asia timur dan tenggara.
Contoh-contoh :
-          Berberis : B. vulgaris.
-          Epimedium: E. rubrum, E. alpinum (tanaman hias).
-          Podophyllum : P. peltatum, penghasil “rhizome podophylli” berkhasiat obat.

  1. Suku : Menispermaceae
Kebanyakan berupa liana, daun tunggal berlekuk atau berbagi menjari, dengan bunga yang kecil-kecil. Pada akar dan batang sering terdapat pertumbuhan menebal sekunder yang abnormal.Bunga dengan tenda bunga tunggal atau ganda, berbilangan 3 atau 2, berkelamin tunggal, berumah 2, aktinomorf.Hiasan bunga, bila dapat dibedakan dalam kelopak dan mahkota, masing-masing membentuk 2 lingkaran, mahkotanya kecil dan tidak lekas menarik perhatian. Bakal buah 3 atau banyak (kadang-kadang hanya 1), tidak berlekatan 1 sama lain, masing-masing berisi 1 bakal biji yang mempunyai integument. Buah berupa buah batu yang bengkok. Biji tanpa endosperm.
Suku ini meliputi ± 400 jenis, terbagi dalam dari 60 marga, kebanyakan tumbuh di daerah panas. Banyak di antaranya yang beracun.
Contoh :
-          Menispermum: M. canadense, dipiara sebagai tanaman hias yang memanjat.
-          Anamirta: A. cocculus, menghasilkan racun ikan.
-          Jatrorrhiza: J. palmate, menghasilkan “radix columbae”, berkhasiat obat.
-          Chondrodendron: Ch. Tomentosum, menghasilkan “radix pereirae brorae”, berguna dalam obat-obatan.

  1. Suku : Magnoliaceae
Tumbuhan berkayu dengan daun-daun tunggal yang duduknya tersebar, tanpa atau dengan daun penumpu, kadang-kadang dengan daun penumpu yang besar. Bunga banci atau berkelamin tunggal, aktinomorf, kenamyakan mempunyai hiasan bunga yang jelas dapat dibedakan dalam kelompok dan mahkotanya, tetapi tidak jarang terdapat daun tenda bunga dalam jumlah besar yang tersusun dalam spiral tanpa perbedaan yang jelas antara kelompok dan mahkotanya. Benang sari banyak, teratur dalam spiral.Bakal buah juga banyak, seperti benang sarinya tersusun dalam spiral pada ujungsumbu bunga. Tiap bakal buah mengandung satu 1 atau beberapa bakal biji yang melekat pada kampuh perut. Buahnya kendaga, buah kurung, atau buah buni, yang terkumpul merupakan buah ganda. Biji dengan banyak endosperm dan lembaga yang kecil.
Suku ini mencakup ± 100 jenis yang terbagi dalam 12 marga, tumbuh di Amerika dan Asia. Kebanyakan di daerah-daerah panas.
Contoh-contoh :
-          Magnolia : M. precia, M. uriginianan M. macraphylla (tanaman hias).
-          Liriodendron : L. tulipifera (tanaman hias)
-          Michelia : M. alba (cempaka putih), M. champaca (Cempaka Kuning).
-          Illicium: I. verum, penghasil “fructus anisi stellati”, yang berguna dalam obat-obatan dan sebagai penyedap dalam pembuat minuman keras, I. religiosum dengan buah yg beracun. I. floridenum, I. anisatum.

  1. Suku : Annonaceae
Tumbuhan berkayu dengan daun tunggal yang duduknya tersebar atau bereling, tanpa daun penumpu. Bunga banci, jarang berkelamin tunggal, aktinomorf, biasanya berbilangan 3, seringkali mempunyai 2 lingkaran daun-daun mahkota. Benang sari banyak, bakal buah 1 sampai banyak, bebas satu sama lain, masing-masing berisi banyak atau 1 bakal biji saja, letaknya pada kampuh perut atau basal, tiap bakal biji mempunyai 2 integumen. Buah kebanyakan berupa buah buni, kadang-kadang berupa buah ganda. Biji dengan endosperm berbelah dan lembaga yang kecil.
Suku ini mencakup sekitar 800 jenis, terbagi dalam 80 marga, hampir semunya penghuni daerah tropika.
Contoh-contoh :
-          Annona: A. muricata (sirsat), A. squamosa (srikaya), A. reticulate (buah nona), penghasilan buah-buahan.
-          Stelechocarpus: St. borahol (kepel, burahol). Bunga tunggal, berumah 1, kauliflor, buah dengan biji yang melintang, pantang di makan bagi wanita yang sedang mengandung.
-          Cananga: C. odorata (kenanga, ilang-ilang), penghasil bunga tabur dan minyak wangi.
-          Polyalthia: P. lateriflora.

  1. Suku : Myristicaceae
Suku ini terdiri atas tumbuhan berkayu dengan daun tunggal yang duduknya tersebar atau berseling. Bunga kecil dengan tenda bunga tunggal yang berbilangan 3, selalu berkelamin tunggal, aktinomorf, berumah 2. Tenda bunga berlekatan, benangsari banyak (sampai 20), tangkai sari berlekatan berbentuk buluh, kepala sari menghadap keluar.Bakal buah tunggal dengan 1 bakal biji yang anatrop dan terletak pada dasar bakal buah, mempunyai 2 integumen. Buahnya buah yang berdaging, bila masak membuka dengan 2 katup. Biji dengan salut bijim yang disebut “macis”, endosperm dan perisperm yang berbelah, lembaga hanya kecil.
Dalam suku ini termasuk sekitar 250 jenis, terbagi dalam 15 marga, kebanyakan penghuni daerah tropika, terutama di Asia, Malaysia, dan Indonesia, ada juga di Afrika. Contoh : Myristica fragans (pala) penghasil rempah-rempah dan bahan obat (bijinya), kulit buah yang tebal berdaging dapat dimakan (manisan pala atau asinan pala), salut biji (macis) berguna dalam obat-obatan.
8.      Suku : Monimiaceae

Tumbuhan berkayu, kebanyakan dengan daun-daun tunggal yang duduk daunnya berhadapan tanpa penumpu.Bunga jelas mempunyai kelopak dan mahkota atau tenda bunga, banci atau berkelamin tunggal, aktinomorf atau zigomorf. Sumbu bunga berbentuk cakram atau piala.Benang sari banyak atau sedikit tersusun dalam 2 lingkaran. Bakal buah banyak, bebas satu sama lain, masing-masing dengan satu bakal bijiyang letaknya basal dan mempunyai 2 integumen. Buahnya buah kurung yang terbungkus oleh dasar bunganya.Biji dengan endosperm dan lembaga yang kecil.
Suku Monimiaceae mencakup sekitar 340 jenis yang terbagi dalam 30 marga yang merupakan penghuni daerah-daerah dengan udara panas. Contoh-contoh : Peumus : P. Boldus, daunnya (folia boldo) berguna dalam obat-obatan. Daryphora : D. sassafras, sassafras Australia. Atherosperma : A. moschatum.

9.      Suku : Lauraceae
Tumbuh-tumbuhan berkayu dengan daun-daun tunggal (yang kadang-kadang bertulang melengkung) yang duduknya tersebar, kadang-kadang berhadapan, tidak mempunyai daun penumpu. Bunga banci atau berkelamin tunggal, dengan tenda bunga berbilangan 2 sampai 5, biasanya berbilangan 3, tertanam pada tepi sumbu bunga yang berbentuk mangkuk atau piala dan tersusun dalam 2 lingkaran. Benang sari tersusun dalam 3 sampai 4 lingkaran, tiap lingkaran terdiri atas sejumlah benang sari yang sama dengan jumlah daun-daun tenda bunga dalam lingkarannya, yang pada lingkaran dalam sering bersifat mandul sebagai staminodium. Kepala sari membuka dengan katup. Bakal buah menumpang atau terdapat dalam lekukan dasar bunganya, mempunyai 1 bakal niji yang anatrop dengan 2 integumen. Buah untuk sebagian terbalutoleh sumbu bunganya yang membesar, berupa buah buni atau menyerupai buah batu.Biji tanpa endosperm, lembaga dengan daun lembaga yang besar. Dalam daun dan kulit batang (gelam) terdapat sel-sel yang mengandung minyak atsiri.
Warga suku Lauraceae merupakan penghuni daerah-daerah yang panas, seluruhnya mencakup lebih dari 1000 jenis yang terbagi dalam sekitar 50 marga. Banyak diantaranya yang berguna bagi kehidupan manusia.
Contoh-contoh :
-          Laurus : L. nobilis, daunnya sebagai penyedap masakan. L. camphora, kamfer jepang
-          Cinnamomum : C. zeylanicum, C. burmanni, C. cassia, penghasil kenigar atau kayu manis (cortex cinnamomi) yang nerguna sebagai penyedap masakan dan dalam obat-obatan.
-          Persea : P. gratissima (alpokat, apukat), buahnya dapat dimakan : P. Americana.
-          Sassafras : S. officinale, kayunya (lignum sassafras) berguna dalam obat-obatan
-          Eusideroxylon : E. zwageri, penghasil kayu ulin atau merbau dari Sumatra Selatan
-          Cassytha : C. filiformis (tali putri), suatu parasite terutama bagi pohon-pohon di hutan-hutan pantai.
Catatan : jangan keliru dengan Cuscutha australis yang sering juga disebut tali putri, suatu parasite berwarna kuning jingga yang tergolong dalam sukuConvolsulaceae, dalam bahasa jawa  disebut “endak-endak cacing”. Cassytha mempunyai batang yang lebih tebal dan warnanya bukan kuning jungga melainka kehijau-hijaun.


10.  Suku : Hernandiaceae
Suku ini terdiri atas tumbuhaan berkayu dengan daun penumpu. Bungan dengan tenda bunga, banci atau berkelamin sari 3-5, duduknya berhadapan dengan daun-daun tenda bunga dalam lingkaran yang paling luar. Bakal buah tenggelam, beruang 1, berisi satu bakal biji anatrop yang bergantung dan mempunyai 2 integumen. Buahnya keras yang bersayap, biji tanpa endosperm dengan lembaga yang lurus.
Hernandiaceae merupakan suatu suku yang warganya hidup di daerah tropika, meliputi hanya sekitar 22 jenis yang terbagi dalam 4 marga. Contoh : Hernandia : Hernandia Peltata, Hernandia origera.

11.  Suku Gomortegaceae
Angggota-anggotanya terdiri atas pohon-pohon dengan daun tunggal yang duduk berhadapan, tanpa daun penumpu. Kayunya berat, awet. Bunga tersusun dalam tandan di ketiak-ketiak daun atau pada ujung-ujung cabang, banci, aktinomorf. Hiasan bunga terdiri atas 6-10 daun kelopak yang tersusun dalam spiral dan mempunyai bentuk  dan warna seperti tenda bunga. Mahkota tidak terdapat. Benang sari banyak, tetapi hanya 2 sampai 3 yang bersifat fertile, yang di bagian dalam masing-masing mempunyai 2 kelenjar yang bertangkai pada tangkai sarinya. Kepala sari membuka dengan katup-katup, menghadap ke dalam.
Bakal buah tenggelam, beruang 2 sampai 3 dengan bakal biji dalam tiap ruang. Bakal biji mempunyai 2 integumen. Buahnya buah batu.Biji dengan banyak endosperm dan lembaga yang besar.Suku ini hanya terdiri atas satu marga ; Gomortega dengan 1 jenis yang hidup di Chili yaitu Comortega nitida.

12.  Suku Calycanthaceae
Merupakan tumbuhan perdu dengan daun-daun tunggal yang berhadapan, tanpa daun penumpu. Bunga terpisah-pisah dalam ketiak daun, brbau sedap, mempunyai tenda bunga yang banyak dan tersusun dalam spiral, dasar bunga yang terbentuk piala, aktinomorf. Daun tenda menyerupai mahkota. Benang sari berjumlah antara 20-30. Bakal buah kurang lebig 20 terletak pada dasar sumbu bunga, bebas satu sama lain, masing-masing berisi 2 bakal biji yang anatrop dan mempunyai 2 integumen. Buahnya buah kurung, berisi 1 biji.Biji dengan sedikit atau tanpa endosperm, lembaga dengan daun lembaga yang tergulung.
Suku ini hanya terdiri atas satu marga, yaitu Calicanthus dengan 5 jenis yang tersebar di Amerika Utara, Asia Timur, dan Australia tropic. Sebagai contoh :Calicanthus occidentalis.



13.  Suku Eupomatiaceae



Merupakan tumbuhan semak atau perdu dengan daun-daun penumpu. Bunga terpisah-pisah, banci aktinomorf, mempunyai dasar bunga yang berbentuk piala. Hiasan bunga hanya terdiri atas 1 daun pelindung yang mudah gugur pada tepi dasar bunga yang berbentuk piala tadi. Benang sari banyak, yang di bagian dalam steril dan petaloid. Bakal buah banyak, bebas satu sama lain, terletak dalam dasar bunga, masing-masing banyak mengandung bakal biji. Buahnya buah buni, dilingkari oleh sisa hiasan bunganya. Biji dengan endosperm yang berbagi dan lembaga kecil. Suku ini hanya terdiri atas satu marga yaitu Eupomatia dengan  dua jenis di Irian dan Australia Timur. Contoh :Eupomatia laurina.
14.  Suku Nymphaeaceae



Hidrofita yang tumbuh di rawa-rawa atau daerah-daerah yang tergenang air, terapung atau mempunyai akar yang dapat mencapai dasar air. Daun-daun terapung di air atau tenggelam, tetapi ada pula yang muncul di atas air. Bunga terpisah-pisah, aktinomorf dengan tenda bunga berbilangan 3 sampai banyak yang berfugsi sebagai daun kelopak, atau hanya 6 daun tenda bunga yang tersusun dalam 2 lingkaran. Benang sari 3 sampai banyak, sebagian besar bersifat steril dan berubah menjadi bagian-bagian yang meyerupai daun-daun mahkota.
Bakal buah menumpang atau setengah tenggelam, kadang-kadang sama sekali tenggelam berjumlah 3 sampai banyak, bebas satu sama lain atau berlekatan, seringkali tenggelam dalam dasar bunganya, masng-masing beruang banyak, tiap ruang dengan satu sampel banyak bakal biji yang laminal. Buahnya buah kurung atau menyerupai buah buni. Biji mempunyai salut biji, kebanyakan dengan endosperm dan perisperm, lembaga lurus. Suku ini mencakup sekitar 100 jenis yang terbagi dalam 8 marga dengan daerah distribusi yang sangat luas, meliputi daerah tropika dan daerah iklim sedang di belahan bumi utara. Contoh-contoh :
-          Nymphaea :Nymphaea lotus (teratai), Nymphaea stellate (tunjung), seringkali sebgai tanaman hias di kolam.
-          Nelumbo : Nelumbo nucifera, Nelumbo lutea (bijinya dapat dimakan).
-          Victoria : Victoria regia, dengan daun yang bundar dan tepi ke atas, sebagai tanaman hias.
15.  Suku Ceratophyllaceae

Tumbuhan air yang submers, dengan daun-daun yang berulang kali berbagi menggarpu. Tanpa  tangkai daun, tanpa daun penumpu, duduknya berkarang. Tiap daun, mempunyai tenda bunga, berkelamin tunggal. Bunga ♂ dan ♀ dalam ketiak daun pada buku-buku yang berbeda, berumah satu. Daun tenda bunga pada bunga ♀ 12 sangat kecil, benang sari 10-12, pada bunga ♀daun tenda bunga 9-10. Bakal buah menumpang, dengan 1 bakal biji mempunyai tangkai putik yang panjang. Buahnya buah keras dengan tangkai putik yang mengeras pada ujungnya, dilingkari daun-daun tenda bunga yang tidak luruh. Biji dengan endosperm tipis, lembaga yang besar dan lurus. Pucuk lembaga telah jelas dan dalam biji telah menujukkan beberapa daun. Suku ini hanya terdiri atas 1 marga : Ceratophyllum dengan 3 jenis yang kosmopolitik, diantaranya ialah : Ceratopyllum demersum.

B.     Bangsa : ARISTOLOCHIALES

Aristolochiales meliputi terna atau liana dengan daun-daun tunggal tanpa daun penumpu yang duduknya tersebar. Sebagian berupa parasit dengan bagian-bagian vegetative yang sangat tereduksi. Bunga aktinomorf dengan tenda bunga tunggal yang berwarna atau mempunyai hiasan bunga yang jelas dapat dibedakan dalam kelopak dan mahkotanya. Bakal buah kebanyakan tenggelam, beruang 3-6 dengan timbuni sentral di ketiak, atau hanya beruang 1 dengan papan biji pada dinding buah dengan bakal biji dalam jumlah yang besar.Bakal biji mempunyai 2 integumen. Biji dengan endosperm dan  lembaga yang kecil.
Dalam bunga Aristolochiales tercakup beberapa  suku saja, diantaranya :
1.      Suku : Aristolochiaceae

Terna atau liana dengan daun-daun bangun jantung atau ginjal yang mengandung sel-sel minyak, tanpa daun penumpu, duduknya tersebar. Bunga banci, aktinomorf atau zigomorf dengan tenda bunga serupa kelopak atau mempunyai kelopak serupa mahkota dan mahkota yang kecil. Benang sari 5 - 6 atau banyak, bebas atau berlekatan  dengan tangkai putik. Bakal buah tenggelam, beruang 4 - 5 dengan banyak bakal biji yang masing-masing mempunyai 2 integumen. Buahnya buah kendaga, biji dengan endosperm dan  lembaga yang kecil.
Suku ini mencakup sampai 400 jenis, terbagi dalam 7 marga, kebanyakan hidup di Amerika Selatan.
Contoh : Aristolochia : A. kewensis, A. grandiflora, A. durior, A. europaeum.

2.      Suku : Rafflesiaceae

Umumnya terna berumah 2 atau berumah 1 yang hidup sebagai parasit pada akar dan cabang-cabang berbagai tumbuhan inang, tidak mempunyai akar, hanya tunas-tunas pendek dan daun-daun yang menyerupai sisik. Bagian vegetative tubuhnya bersifat seperti talus atau tereduksi menjadi badan-badan seperti miseliumnya jamur dan terdapat di dalam jaringan  tumbuhan inangnya. Bunga kecil sampai amat besar (pada Rafflesia arnoldi dapat mempunyai garis tengah sampai mendekati 1m, dengan berat hamper 10 kg dan merupakan bunga tersebar yang dikenal sampai sekarang),  hampir selalu berkelamin tunggal, aktinomorf dengan tenda bunga berbilangan 4 - 5. Benang sari banyak, terdapat pada sisi bawah suatu badan berbentuk cakram yang terdapat di tengah-tengah bunga. Bakal buah umumnya tenggelam dengan 4 - 8 papan biji pada dindingnya, dapat juga bakal biji yang masing-masing mempunyai 2 integumen. Buahnya buah buni dengan banyak biji, tiap biji mempunyai endosperm dan lembaga yang kecil.
Suku ini meliputi 53 jenis yang terbagi dalam 8 marga terutama tumbuh dalam 8 marga terutama tumbuh di daerah tropika dan subtropika.
Contoh :
-          Rafflesia : R. arnoldi ( parasit pada akar-akar liana di hutan-hutan di sumatra). R. padma, di P Nusakambangan dan bagian barat daerah Banyumas.
-          Pilostylus : P. thurberi, di Mexico.
-          Apodenthes : yang anggota-anggotanya ditemukan di Afrika dan Amerika tropika.
-          Cytinus : yang anggotanya terdapat di sekitar Laut Tengah dan daerah ujung selatan Afrika.

3.      Suku : Hydnoraceae
Terna, parasit pada berbagai jenis semak merayap, daun tidak ada. Bunga terpisah-pisah, banci, aktinomorf, dengan tenda bunga berbentuk tabung yang berbagi 3 – 4.Benang sari 3-5, melekat pada dinding tabung tenda bunga dan berlekatan ke samping, ruang sari banyak. Bakal buah tenggelam, beruang 1 dengan 3 kelompok tembuni pada dindingnya. Tiap tembuni dengan banyak bakal biji yang masing-masng hanya  mempunyai 1 integumen. Buahnya buah buni. Biji dengan endosperm dan perisperm, lembaga belum sempurna.
Suku ini terdiri atas 18 jenis yang terbagi dala 2marga Hydnora dan Presopanche, terdapat di Afrika tropika dan Amerika Selatan.
Contoh : Hydnora longicolis.

C.    Kegunaan Bangsa Polycarpicae dan Bangsa Aristolochiales
1.      Keuntungan
·         Berguna dalam obat-obatan.
·         Sebagai tanaman hias yang memanjat.
·         Sebagai penyedap dalam pembuat minuman keras
·         Penghasil bunga tabur dan minyak wangi.
·         Penghasil rempah-rempah
·         Sebagai penyedap masakan
2.      Kerugian
·         Menghasilkan racun ikan
·         Suatu parasite terutama bagi pohon-pohon di hutan-hutan pantai


DAFTAR PUSTAKA


Tjrosoepomo, Gembong. 2010. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Gadjah
            Gadjah Mada University Press : Yogyakarta, Hal : 163-191

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More