Creative PadLan

Creative PadLan

Creative PadLan

Creative PadLan

Selasa, 17 Juli 2012

MAKALAH PROTISTA


KATA PENGANTAR

Alhamdullilah, puji syukur kehadiran Allah SWT, yang telah melimpahkan Rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Makalah ini penulis susun guna memperlancar kegiatan belajar mengajar di perkuliahan pada umumnya Protista. Dalam makalah ini materi yang penulis sajikan membahas tentang Kelas Rhizopoda. Walaupun makalah ini dapat selesai dengan baik, penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangannya.
Untuk kesempurnaan dalam membahas makalah ini penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak agar tercapai apa yang kita harapkan bersama dan untuk memperlancar tugas kami dalam menyusun makalah selanjutnya.
Terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak dan tim penulis yang telah bekerja sama dengan baik dalam menyelesaikan makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Samarinda,  18 Otober 2011



                Penyusun





DAFTAR ISI
  

KATA PENGANTAR   ………………………………………………………………… i                 
DAFTAR ISI   …………………………………………………………………………  ii    
BAB I      PENDAHULUAN ……………………………………………………………1
A.  Latar Belakang   …………………………………………………………..1     
B.     Rumusan Masalah  …………………………………………......................1         
C.     Tujuan   …………………………………………………………………...2             

BAB II    PEMBAHASAN………………………………………………………………3
A.    Protozoa…………………………………………………………………..3

B.     Kelas Rhizopoda …………………………………………………………4


BAB III   PENUTUP ……………………………………………………………………9
A.     Kesimpulan …………………………………………………………………….9
B.     Saran……………………………………………………………………………9








BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang

Protista(“yang paling pertama”) berasal dari teori asal-usul makhluk hidup yang di kemukakan oleh Aris Toteles “Makhluk hidup berasal dari benda mati”. Filum pada Protista terdiri atas empat yaitu: (1) Rhizopoda/Sarcodina, (2) Cylliata/Cyilliophora, (3) Flagellata/Mastidhopora dan, (4) Sporozoa
           Dalam makalah ini membahas tentang Rhizopoda ( rhizo = akar, phodium= kaki ) atau Sarcodina (sarkodes= berdaging). Rhizopoda Merupakan salah satu filum dari protozoa  yang bergerak dan makannya dengan menggunakan pseudopodia ( kaki semu ). Bersifat amoboid  yaitu bentuk tubuh tidak tetap karena aliran protoplasmanya bersifat pseudopodia ( kaki semu ). Hidup di laut, air tawar, dan di dalam tubuh hewan atau manusia sebagai parasit. Contoh dari Rhizopoda yaitu Amoeba, Ridiolaria, Arcella, diflugia dan Foraminifera
                  Dengan mempelajari Rhizopoda kita dapat lebih memahami  morfologi, fisiologis dan proses reproduksi dari  Rhizopoda. Dan dapat mengetahui apa-apa saja contoh- contoh rhizopoda yang merugikan dan yang menguntungkan
2.      Rumusan Masalah
a.       Apa pengertian dari protozoa?
b.      Apa saja klasifikasi dari protozoa?
c.       Bagaimana pembagian kelas pada Rhizopoda?
d.      Bagaimana proses perkembangbiakan pada Rhizopoda?


3.      Tujuan
a.       Agar mahasiswa dapat memahami tentang protozoa
b.      Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami klasifikasi dari Protozoa
c.       Agar mahasiswa dapat memahami pembagian kelas-kelas pada Rhizopoda
d.      Agara mahasiswa dapat memahami proses perkembangbiakan pada Rhizopoda
BAB II
PEMBAHASAN

A. Protozoa
Protozoa yang menyerupai hewan dikenal dengan nama protozoa (protos = pertama, zoon = hewan). Sebagian protozoa adalah hewan eukariotik bersel tunggal dan mikroskopis. Protozoa dapat hidup pada air tawar, air laut, air payau dan ada juga yang hidup di dalam tubuh organisme multiseluler. Seluruh kegiatan hidupnya dilakukan oleh sel itu sendiri dengan menggunakan organel-organel antara lain membran plasma , sitoplasma dan mitokondria. Beberapa protozoa ada yang mempunyai peranan dalam menghancurkan sisa-sisa organisme yang telah mati, tetapi ada juga yang bersifat parasit di dalam tubuh organisme, misalnya dapat menyebabkan penyakit tidur, malaria, dan disentri. Protozoa hidup secara individual, tetapi ada juga diantara mereka yang hidupnya berkoloni.
Protozoa berkembangbiak dengan cara aseksual, yaitu dengan cara pembelahan biner dan membentuk spora serta secara seksual yaitu melalui konjugasi. Hewan ini memilki alat gerak berupa cilia, flagel, dan kaki semu (Pseudopia), tetapi ada juga yang tidak memiliki alat gerak.

Ciri-Ciri Protozoa:
  • Organisme uniseluler (bersel satu)
  • Eukariotik (memiliki membran nukleus
  • Hidup soliter (sendiri) atau berkoloni
  • Umumnya tidak dapat membuat makananya sendiri (heterotof)
  • Hidup bebas, saprofit dan parasit
  • Dapat membentuk sista untuk bertahan hidup
  • Alat gerak berupa pseudopia , silia atau flagella

Klasifikasi protozoa
Berdasarkan struktur alat geraknya , filum protozoa dibedakan menjadi empat kelas:
  1. Kelas Rhizopoda (sarcodina)
  2. Kelas Ciliata
  3. Kelas Flagellata
  4. Kelas sporozoa
B. Kelas Rhizopoda
Kelas Rhizopoda  Bergerak dengan kaki semu (pseudopodia) yang merupakan penjuluran protoplasma sel, yang berfungsi sebagai alat penangkap mangsa. Hidup di air tawar, air laut, tempat-tempat basah, dan sebagian ada yang hidup dalam tubuh hewan atau manusia. Perkembangbiakan secara aseksual melalui pembelahan biner dan pembentukkan kista. Jenis yang paling mudah diamati adalah Amoeba.
Morfologi Amoeba
·         Ukuran antara 200-300 mikron
·         Bentuknya selalu berubah ubah setiap kali berpindah tempat
·         Sitoplasma dibagi menjadi dua endoplasma dan ektoplasma
·         Mempunyai 1 inti dan berbentuk bulat
·         Terdapat satu vakuola kontraktil dan vakuola makanan yang banyak ditentukan oleh banyaknya makanan yang ada disekitarnya.




Fisiologi
·         Pernapasan berlangsung melalui permukaan sel secara difusi.
·         Bergerak dengan cara mengalirkan penjuluran protoplasma yaitu pseudopodia. Proses penjuluran ini terjadi karena adanya pencairan sementara bagian luar endoplasma yang kental.
·         Pencernaan makanan padat karena bersifat holozoik melalui pseudopodia dengan cara merangkul, mengitarinya sehingga terbentuk vakuola makanan.
Struktur tubuh Amoeba: Sel dilindungi oleh membrane sel. Didalam selnya terdapat organel – organel, diantaranya inti sel, vakuola kontraktil, dan vakuola makanan.
      Membrane sel atau membran plasma Membrane sel disebut juga plasmalema dan berfungsi melindungi protoplasma. Sitoplasma dibedakan atas ekstoplasma dan endoplasma. Ektoplasma merupakan lapisan luar sitoplasma yang letaknya berdekatan dengan membrane plasma dan umumnya ektoplasma merupakan bagian dalam plasma, umumnya bergranula. Didalam endoplasma terdapat 1 inti, satu vakuola kontraktil, dan beberapa vakuola makanan. Inti sel (nukleus) berfungsi untuk mengatur seluruh kegiatan yang berlangsung di dalam sel. Rongga berdenyut (Vakuola Kontraktil).rongga berdenyut disini berfungsi sebagai organ eksresi sisa makanan. Vakuola kontraktil juga menjaga agar tekanan osmosis sel selalu lebih tinggi dari tekanan osmosis di sekitarnya.
Rongga makanan (vakuola makanan ) Rongga makanan atau sering disebut dengan vakuola makanan berfungsi sebagai alat pencernaan. Makanan yang tidak dicerna akan dikeluarkan melalui rongga berdenyut.
Tempat hidup dan habitat.  
     Berdasarkan tempat hidupnya Amoeba dibedakan menjadi beberapa tempat:
a.       Ektamoeba : hidup di luar tubuh organisme (hidup bebas). Misalnya Amoeba proteus.
b.      Entamoeba : hidup di dalam organisme , misalnya manusia: contohnya Entamoeba histolityca, yang hidup di dalam usus halus manusia, bersifat parasit dan menyebabkan penyakit perut (Disentri). Entamoeba coli, hidup dalam colon (usus besar manusia). Amoeba ini tidak bersifat parasit , tetapi kadang-kadang dapat menyebabkan buang air besar terus-menerus. Entamoeba ginggivalis, hidup dalam rongga mulut dan menguraikan sisa-sisa makanan, sehingga merusak gigi dan gusi.
Contoh dari Rhizopoda lainnya seperti:
1.      Ella Memiliki rangka luar yang tersusun dari zat kitin. Hewan ini banyak terdapat di air tawar. Berbentuk seperti piring, dengan satu permukaan cembung dan permukaan lainnya cekung atau datar , yang ditengahnya terdapat lubang tempat keluarnya kaki palsu.
2.      Diffugia angka luar diffugia dapat menyebabkan butir-butir pasir halus dan benda-benda laindapat melekat.
3.      Foraminifera miliki rangka luar yang terdiri dari silica atau zat kapur (mengandung kalsium karbonat). Semua anggota foraminifera ini hidup di laut. Genus yang paling terkenal dari Foraminifera ini adalah Globigerina, karena lapisan Foraminifera dapat digunakan sebagai petunjuk dalam pencarian sumber minyak bumi.
4.       Radiolaria
Merupakan organisme laut bertubuh bulat seperti bola dan memilki banyak duri yang terbuat dari zat kitin dan stonsium sulfat. Radiolaria yang mati akan mengendap yang disebut dengan Lumpur radiolaria yang digunakan sebagai bahan alat penggosok serta bahan peledak. Contoh genusnya : Achantometro dan Collosphaera.

Perkembangbiakan Rhizopoda
Perkembang biakan rizopada contohnya pada amoba terjadi melalui proses pembelahan sel secara langsung, disebut pembelaha biner atau pembelahan amitosis, yaitu dari satu sel akan memnbelah menjadi dua sel yang sama besar dan mengandung materi genetic yang sama.


5.      Ordo pada Rhizopoda:
·         Ordo lobosa
Ciri-cirinya : mempunyai pseudopodia pendek dan tumpul serta terdapat perbedaan yang jelas antara ektoplasma serta endoplasma.
·         Ordo filosa
Ciri-cirinya : mempunyai pseudopodia halus seperti benang dan becabang-cabang.
·         Ordo foraminifera
Ciri-cirinya : mempunyai pseudopodia panjang dah halus.
·         Ordo helioza
Ciri-cirinya : mempunyai pseudopodia berbentuk benang yang radien dan antarfilamen tidak pernah bersatu membentuk jala atau anyaman.
·         Ordo radiolarian
Cirinya : mempunyai pseudopodia berupa benang-benang halus yang tersusun radier dan bercabang-cabang membentuk jala (anyaman).












BAB III
KESIMPULAN

A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, dapat kita tarik kesimpulan sebagai berikut :
1.      Protozoa yang menyerupai hewan dikenal dengan nama protozoa (protos = pertama, zoon = hewan). Sebagian protozoa adalah hewan eukariotik bersel tunggal dan mikroskopis.
2.      Berdasarkan struktur alaat geraknya, filum protozoa dibedakan menjadi empat, yaitu kelas Rhizopoda, kelas Ciliata, kelas Flagellata dan kelas Sporozoa.
3.      Kelas Rhizopoda bergerak dengan kaki semu (pseudopodia) yang merupakan penjuluran protoplasma sel, yang berfungsi sebagai alat penangkap mangsa.
4.      Perkembangbiakan rizopoda contohnya pada amoba terjadi melalui proses pembelahan sel secara langsung, disebut pembelaha biner atau pembelahan amitosis, yaitu dari satu sel akan membelah menjadi dua sel yang sama besar dan mengandung materi genetic yang sama.
B.     Saran
Sebaiknya para pembaca jangan puas terhadap makalah ini saja, pembaca juga harus  menambah ilmu pengetahuannya lagi tentang materi Rhizopoda ini dengan mencari lagi buku-buku bacaan lainnya atau dari internet.




DAFTAR PUSTAKA


Istamar Syamsuri. 2004. Biologi. Jakarta : Erlangga.
Sugiarti, S. dkk. 2002. Avertebrata Air Jilid I. Depok : Penebar Swadaya.
Http//www. Google.com
Http//wikipedia.com

Minggu, 08 Juli 2012

Ganggang merah (Rhodophyceae)



 
Ganggang merah (Rhodophyceae)
adalah salah satu filum dari alga berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Warna merah pada alga ini disebabkan oleh pigmen fikoeritrin dalam jumlah banyak dibandingkan pigmen klorofil, karoten, dan xantofil. Alga ini pada umumnya bersel banyak (multiseluler) dan makroskopis. Panjangnya antara 10 cm sampai 1 meter dan berbentuk berkas atau lembaran. Beberapa alga merah memiliki nilai ekonomi sebagai bahan makanan (sebagai pelengkap minuman penyegar ataupun sebagai bahan baku agar-agar). Alga merah sebagai bahan makanan memiliki kandungan serat lunak yang baik bagi kesehatan usus.
Terdapat 3000 spesies alga merah (divisi Rhodophyta) ditemukan di laut. Warna merah dihasilkan oleh pigmen merah yang dominan yaitu fikoeritrin. Memiliki dinding sel selulosa dan sangat peka terhadap cahaya. Pigmen merah mampu menyerap cahaya biru dan ungu. Kebanyakan ditemui di air dalam dan berfilamen dengan ketebalan, lebar aturan filamen yang berbeda. Contohnya : Gigartina, Porphyra.


Rhodophyceae dibagi dalam dua anak kelas, yaitu Bangieae  dan Floridaea
Anak kelas BANGIEAE (PROTOFLORIDAE)
Talus berbentuk benang, cakram, atau pita dengan tidak ada percabangan yang beraturan. Pembiakan vegetative dengan monospora yang dapat memperlihatkan gerakan ameboid. Pembiakan seksual dengan oogami. Oogonium berupa sel yang sedikit saja bedanya dengan sel-sel talus, kadang-kadang mempuyai alat tambahan seperti trikogin. Anteredium menghasilkan gamet jantan yang disebut spermatium. Zigot dengan langsung membuat spora setelah mengadakan pembelahan baru mengeluarkan spora. Dalam golongan ini termasuk suku bangiaceae, yang membawahi antara lain ganggang tanah Porhyridium cruentum dan ganggan laut Bangia artropurpurea.
Anak kelas FLORIDEAE
Talus ada yang masih sederhana, tetapi umumnya hampir selalu bercabang-cabang dengan beraturan dan mempunyai  beraneka ragam bentuk , seperti benang, lembaran-lembaran. Percabangannya menyirip atau mengarpu. Kegiatan seksual berlangsung sebagai berikut. Dari sel-sel ujung cabang-cabang talus, berbentuk dua anteridium yang masing-masing terdiri atas satu sel saja dan berasal dari penonjolan sel ujung. Tiap anteridium menghasilkan satu gamet jantan yang oleh karena tidak dapat bergerak tidak dinamakan spermatozoit tetapi spermatium. Gametangium betina dinamakan karpogonium, karpogonium terdapat pada ujung cabang-cabang lain daripada cabang-cabang talus yang mempunyai anteridium. Suatu karpogonium terdiri atas satu sel panjang, bagian bawahnya membesar seperti botol, bagian atasnya berbentuk gada atau benang dan dinamakan trikogin. Inti telur terdapat pada bagian dasar yang membesar tadi. Spermatium secara pasif (oleh air) akhirnya sampai pada trikogin, melekat pada trikogin, dan setelah dinding perlekatan terlarut, seluruh protoplas spermatium masuk ke dalam karpogonium. Setelah terjadi pembuahan bagian bawah karpogonium lalu membuat sumbat, dan dengan sumbat itu menjadi terpisah dari trikogin. Zigot tidak mengalami waktu istirahat, melainkan dari bidang samping lalu membentuk sel-sel yang merupakan benang-benang yang dinamakan benang sporogen. Dalam sel-sel ujung benang itu terbentuk satu spora, masing-masing dengan satu inti dan satu plastida dan dinamakan karpospora. Karpospora akhirnya keluar dari sel-sel terminal benang sporogen sebagai protoplas telanjang dan tidak mempunyai bulu cambuk. Karpospora itu mula-mula berkecambah menjadi suatu protalium yang akhirnya tumbuh menjadi individu baru dengan alat-alat generative. Mengingat bahwa spora tidak dapat bergerak hingga kemudian terjadinya pembuahan itu sedikit, maka untuk meniadakan kepincangan itu terbentu banyak sekali spora
Jadi disini kita lihat pula pergiliran keturunan, tetapi gametofit dan sporofit yang disini berupa benang-benang sporogen tidak terpisah; sporofit yang berupa benang dan hanya terdiri atas beberapa sel itu hidup sebagai parasit pada gamatofit.
Pristiwa seperti diuraikan di atas terdapat antara lain pada Batrachospermum moniliforme . pembelahan reduksi terjadi pada zigot, jadi baik gametofit maupun sporofit bersifat haploid dan hanya zigot saja yang merupakan fase yang diploid.
Pada warga Florideae lainnya terdapat pergiliran antara tiga keturunan dalam daur hidupnya yaitu :
1.      Gametofit yang haploid yang mempunyai anteriduim dan karpogonium
2.      Karposporofit yang dipoid, mengeluarkan karpospora diploid, yang kemudian tumbuh menjadi
3.      Tetrasporofit, yang habitusnya menyerupai gametofit (keturunan pertama), akan tetapi tidak mempunyai alat-alat seksual, melainkan mempunyai sporangium yang masing-masing mengeluarkan empat spora (tetraspora). Baru dalam pembentukan tetraspora terjadi pembelahan reduksi. Jadi tetraspora adalah haploid dan kemudian tumbuh menjadi gametofit yang haploid pula. Daur hidup yang memperlihatkan 3 keturunan itu antara lain terdapat pada Callthamnion corymbosum. Gametofit dan tetrasporofit dapat isomorf, tetapi ada pula yang tidak, misalnya Bonnemaisonia hamifera.

Florideae dibagi dalam sejumlah bangsa, diantaranya yaitu :
Banga Nemalionales
Didalamnya termasuk suku Helminthocladiaceae yang antara lain mencakup Batrachospermum moniliforme, Bonnemaisonia hamifera

Bangsa Gelidiales
didalamnya termasuk suku Gelidiales, misalnya Gelidium cartilagineum dan Gelidium lichennoides, terkenal sebagai penghasil agar-agar.

Bangsa Gigartinales
Kebanyakan terdiri atas ganggang laut. Yang penting ialah suku Gigartinales dengan dua warganya yang menghasilkan bahan yang berguna, ialah Chondrus crispus dan Gigartina mamillosa, penghasil karagen atau lumut islandia yang berguna sebagai bahan obat.

Bangsa Nemastomales
dari bangsa ini perlu disebut suku Rhodophyllidaceae yang salah satu warganya terkenal sebagai penghasil agar-agar, yaitu Euchema spinosum suku Sphaerococcaceae, juga mempunyai anggota-anggota yang merupakan penghasil agar-agar pula, diantaranya Gracilaria lichenoides dan berbagai jenis yang termasuk marga Sphaerococcus.


Bangsa Ceramiales
Dalam bangsa ini termasuk antara lain suku Ceramiaceae didalamnya. Contoh jenis ganggang yang tergolong dalam suku ini ialah Callithamnion corymbosum.

Tempat Rhodophyceae dalam sejarah filogenetik tumbuhan masih merupakan suatu tanda pertanyaan. Ada yang mencari nenek moyang Rhodophyceae pada Clorophyceae, mengingat adanya trikogin pada karpogonium yang mengikatkan oogonium dalam sel-sel tumbuhan pada Coleochaete. Mengingat tidak adanya klorofil b pada Rhodophyceae, pendapat ini sukar diterima. Ada yang mencari hubungan kekerabatan dengan Cyanophyceae dan menggangap Protoflorideae sebagai jembatanya. Bagaiman pun juga sampai sekaranng belum dapat diperoleh pemecahan soal ini  dengan memuaskan.
Bekas ganggang ini telah ditemukan dalam lapisan-lapisan tanah dari jaman silur, dan mungkin dari kambrium, bahkan sering tidak hanya bekas, melainkan sisa-sisa yang mengandung kapur dari jaman yang lebih muda ganggang ini ditemukan dalam lapisan-lapisan tanah jaman jura dan kapur.
 Ciri-ciri Ganggang Merah
1.      Mengandung kloroplas berisi fikoeretrin lebih banyak dibandingkan klorofil, ada karotenoid, sedikit fikosianin.
2.      Kebanyakan hidup di air laut, yaitu laut dalam yang hanya dapat dicapai oleh cahaya bergelombang pendek. Hidup sebagai bentos, melekat pada substrat dengan benang/cakram pelekat.
3.      Bersifat autotrof, tetapi ada yang heterotrof. Yang heterotrof tidak berkromatofora dan hidup sebagai parasit pada ganggang lain.
4.      Hasil asimilasi berupa tepung floridae (mirip glikogen) dan floridosida (senyawa gliserin dan galaktosa) serta tetes minyak. Kadang terdapat pirenoid.
5.      Dinding sel ganggang merah terdiri atas selulosa (sebelah dalam) dan pektin berlendir (sebelah luar).
6.      Bentuk talus beranekaragam dengan jaringan tubuh yang belum bersifat parenkim tetapi hanya berupa plektenkim.
7.      Reproduksi aseksual dengan spora, dan seksual dengan cara oogami. Spora atau gamet tidak berflagel, jadi tidak dapat bergerak aktif.
Perkembangbiakan Ganggang Merah
Alga merah berkembangbiak secara vegetatif dan generative
·         Perkembangbiakan vegetative ganggang merah berlangsung dengan pembentukan spora haploid yang dihasilkan oleh sporagonium atau talus ganggang diploid. Spora ini tumbuh menjadi ganggang jantan atau betina yang sel-selnya haploid.
·         Perkembangbiakan generative ganggang merah dengan oogami, pembuahan sel kelamin betina atau ovum oleh sel kelamin jantan (spermatium). Alat perkembangbiakan disebut spermatogonium yang menghasilkan spermatium yang tidak berflagel. Sedangkan alat kelamin betina disebut karpogonium, yang menghasilkan ovum. Hasil pembuahan ovum oleh spermatuim adalah zigot yang diploid. Selanjutnya, zigot itu akan tumbuh menjadi ganggang baru yang menghasilkan aplanospora dengan pembelahan miosis. Spora haploid akan tumbuh menjadi ganggang penghasil gamet. Jadi pada ganggang merah terjadi pergiliran keturunan antara sporofit dan gametofit. Ganggang merah umumnya bersifat autotrof, ada juga yang heterotrof, yaitu yang tidak memiliki kromatofora dan biasanya parasit pada ganggang lain.
Peranan Ganggang Merah bagi Kehidupan
a)      Keuntungan
Alga merah dapat menyediakan makanan dalam jumlah banyak bagi ikan dan hewan lain yang hidup di laut. Jenis ini juga menjadi bahan makanan bagi manusia misalnya Chondrus crispus (lumut Irlandia) dan beberapa genus Porphyra. Chondrus crispus dan Gigortina mamilosa menghasilkan karagen yang dimanfaatkan untuk penyamak kulit, bahan pembuat krem, dan obat pencuci rambut. Alga merah lain seperti Gracilaria lichenoides, Euchema spinosum, Gelidium dan Agardhiella dibudidayakan karena menghasilkan bahan serupa gelatin yang dikenal sebagai agar-agar. Gel ini digunakan oleh para peneliti sebagai medium biakan bakteri dan fase padat pada elektroforesis gel, untuk pengental dalam banyak makanan, perekat tekstil, sebagai obat pencahar (laksatif), atau sebagai makanan penutup.
Manfaatnya antara lain sebagai bahan makanan dan kosmetik misalnya Eucheuma spinosum, selain itu juga dipakai untuk mengeraskan atau memadatkan media pertumbuhan bakteri. Berwarna merah sampai ungu, kromotofora berbentuk cakram atau sesuatu lembaran, sebagian hasil asimilasi terdapat sejenis karbohidrat yang disebut tepung floride, hidupnya diair laut.

b)      Kerugian
Bersifat autotrof, tetapi ada yang heterotrof. Yang heterotrof tidak berkromatofora dan hidup sebagai parasit pada ganggang lain.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More